About Me

Foto Saya
Rasarsata's blog
Rani, Tania, Sarah, dan Nur Annisa itulah nama kami . Kami adalah siswa dari SMPN 2 GARUT. Kami hanya pelajar biasa. Tidak pintar maupun Kurang. namun sekolah di SMPN 2 GARUT membuat kami berempat semakin semangat untuk belajar. Apalagi dengan guru-guru yang menyenangkan. Salah satu pelajaran yang kami sukai adalah B.Indonesia (tapi sedikit)
Lihat profil lengkapku

RA.SAR.SA

RA.SAR.SA
RASARSATA. Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

RSS
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Yang Unik Tentang Sejarah Indonesia

Di bawah ini ada artikel yang menarik yang saya ambil dari sebuah link, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan tentang sejarah detik2 kemerdekaan RI, yang sebagian orang tidak tahu bagaimana keadaaan saat itu.

Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00,ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para
sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda."Pating greges", keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.
"Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!", ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. Masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai...

**********************
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih
dari tiga ratus tahun!

***********************
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar "orang Indonesia asli". Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu.
"Orang Indonesia asli" pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

***********************
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

************************
Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut "hampir secara kebetulan" dirayakan di sebuah hotel Hollywood.
Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan "Mr President" atau "Your Excellency", tetapi dengan "Prince Soekarno!"

*************************
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, "Tahun Vivere Perilocoso" (Tahun yang Penuh Bahaya),telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

*************************
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

************************
Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas! "Potongan jasmu bagus sekali!" komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

*************************
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur...

***************************
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan.Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar.Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja.Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

****************************
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama "Abdullah, co-pilot".Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa "Abdullah" itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. "You are a liar !" ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru

****************************
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut
menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

***************************
Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

****************************
Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada "Jalan Soekarno-Hatta" di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

****************************
Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

****************************
Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya "lebih dari dua"
proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat dini hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir.Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. "Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau", gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

****************************
Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda.Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

****************************
Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun
waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).

****************************
Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!

****************************
Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah
Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

*****************************
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret,melainkan memanggil tukang sate !!! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden.Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). "Sate ayam lima puluh tusuk!", perintah Presiden Soekarno.Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

*****************************
Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah
mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bun Karno.Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

******************************
Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi "luar biasa" dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.


Created By : Sarah Rahmaniah K

Source from: http://k3mb4r091.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOTA PUISI ( puisi - puisi penyair terkenal )

CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

created by : chairil anwar
DERAI DERAI CEMARA
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

created by : chairil anwar

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TENTANG KITA

NAMA          : Nur Annisa
KELAS         : 8c
T.tgl               : GARUT , 17 AGUSTUS 1997
ALAMAT     : Pasir Lingga Indah B42 ( jalan Otista )


NAMA      : Sarah Rahmaniah Kusnadi
KELAS     : 8c
T.tgl           : GARUT , 17 APRIL 1998
ALAMAT : Komplek Cijati Asri




NAMA      : Rani Rismayuni
KELAS     : 8c
T,tgl           : GARUT , 21 JUNI 1997
ALAMAT : Ciparay 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DUNIA PENYAIR

Di Indonesia tentu banyak penyair-penyair terkenal . Berikut adalah nama dan biografi dari penyair-penyair terkenal di Indonesia :







Tengku Amir Hamzah merupakan sastrawan yang dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah yang juga bergelar Gelar Pangeran Indra Pura, dilahirkan 28 Februari 1911 di Sumatera Timur, keturunan bangsawan Langkat Tengku Pangeran Muhammad Ali dan Tengku Mahjiwa.

Tengku Amir Hamzah kecil, menghabiskan pendidikan HIS dan belajar mengaji di belakang Masjid Azizi Langkat. Kemudian melanjutkan pendidikan MULO di Medan dan Batavia. Semenjak sekolah AMS jurusan Sastra Timur di Solo, kepenyairannya semakin terbentuk. Di kota solo, Amir Hamzah aktif dalam pergerakan kebangsaan menuju Indonesia Merdeka dan terpilih menjadi Ketua Indonesia Muda cabang Solo pada Kongres Indonesia Muda pertama.

Selanjutnya Tengku Amir Hamzah pindah ke Batavia belajar ilmu hukum di Recht Hoge School sampai tingkat kandidat. Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru dan mengelolanya, hingga pecah perang dunia kedua.

Keaktifan Amir Hamzah dalam berorganisasi dan kedekatannya dengan kaum pergerakan, membuat Belanda pada waktu itu menjadi gusar. Belanda menyurati keluarganya di Langkat, kemudian oleh pembesar Langkat menjemput Amir Hamzah pulang. Di Langkat beliau dinikahkan dengan seorang putri bangsawan istana, bernama Tengku Kamaliah, kemudian dinobatkan bergelar Pangeran. Dari pernikahannya, Tengku Amir Hamzah memperoleh seorang anak yang diberi nama Tengku Tahura Alautiah.

Pada 29 Oktober 1945 Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah RI untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Belum setahun menjabat, Amir Hamzah ditangkap oleh kelompok front rakyat ketika sedang bergejolak revolusi sosial di Sumatera Timur.

Amir Hamzah dibawa ke Kwala Begumit untuk menghadapi pengadilan kilat ala hukum rimba (hukum pancung) pada 20 Maret 1946. Amir Hamzah pergi menghadap sang Khalik dalam usia 35 tahun. Jenazahnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kwala Begumit, lalu dimakamkan secara layak di kompleks pemakaman Masjid Azizi Tanjung Pura.

Pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Peristiwa tragis yang dialami Amir Hamzah tidak meninggalkan aib baginya. Atas usulan masyarakat, karena telah mengembangkan kebudayaan, khususnya kesusastraan, Amir Hamzah akhirnya ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional sejak 10 November 1975 berdasarkan SK Presiden No.106/TK Tahun 1975. Selain itu, namanya juga dipakai sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di kedutaan besar RI di Kuala Lumpur Malaysia.

Selama hidupnya, Amir Hamzah telah menghasilkan sekitar 160 karya berupa 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli, dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya yang terkenal terkumpul dalam antologi Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937). Selain itu, ia menerbitkan pula sekumpulan sajak terjemahan dari negara tetangga seperti Jepang, India, Arab, Persia, dan lain-lain dalam antologi Setanggi Timur (1939) dan terjemahan Bhagawat Gita yang dipetik dari Mahabarata berisi dialog antara Kresyna dan Arjuna.

Sumber berita: analisadaily.com








UMAR Khayyam terkenal dengan namanya sebagai seorang penyair unggul Parsi dan ahli astronomi. Beliau juga dikenali sebagai ahli matematik Islam yang telah memperkenalkan sebuah persamaan parsiel antara algebra dengan geometri.

Nama penuh Umar Khayyam ialah Umar Ibnu Ibrahim al-Khayyami. Beliau dilahirkan di Nisyapur, Semenanjung Khurasan pada 433H/1040M dan meninggal dunia pada 517H/ 1123-1124M.

Sejak kecil beliau sudah memperoleh pendidikan yang baik dan teratur daripada orang tuanya yang memang termasuk dalam kategori orang berada.

Salah seorang gurunya ialah Imam Muwaffak, pendidik yang amat terkenal di Nisyapur. Kecemerlangannya, berjaya menarik perhatian Sultan Malik Syah sehingga ditawarkan untuk berkhidmat di istana.

Namun, Umar Khayyam tidak berminat. Beliau lebih tertarik kepada dunia keilmuan, sastera dan sains. Oleh itu, sultan telah mendirikan sebuah observatori astronomi yang menjadi tempat Umar Khayyam mengembangkan ilmunya. Di samping itu, beliau juga dilantik menjadi ketua kepada lapansarjana yang melakukan penelitian astronomi di Perguruan Tinggi Nizamiah, Baghdad, Iraq.

Para ilmuwan ini kemudian melakukan modifikasi terhadap perhitungan takwim Islam. Pembaharuan ini didasarkan pada pemikiran dan juga kenyataan bahawa manusia hanya mengenal tahun syamsiyah (yang mempunyai 365 hari) dan tahun qamariah (354 hari).

Pada dasarnya ini merupakan sebuah tugas mirip dengan revisi yang dilakukan oleh Paus Gregory XIII pada 1528M terhadap kalendar Kristian atau kalendar Julian (Julius Caesar) yang telah dipakai sejak 46M. Hasil kerja kelompok Umar Khayyam ternyata jauh lebih baik berbanding yang dilakukan oleh Paus Gregory XIII.

Sejak 1079M, Umar Khayyam telah mula menerbitkan hasil penelitiannya berupa gambar rajah astronomi yang dikenali sebagai Zij Malik Syah. Begitu juga karyanya dalam bidang matematik, khususnya mengenai algebra serta sebuah buku penyelidikan daripada buku The Difficullies of Euclid’s Definitions (Kesulitan Definis Fuclides). Semuanya sehingga kini masih tersimpan dengan baik.

Karyanya tentang Al-Jabr (Algebra) telah diterjemahkan dan disunting oleh F.Woepeke ke dalam bahasa Perancis (1857M). Ia merupakan sumbangan amat berharga bagi negerinya serta bagi pengajian bidang matematik pada umumnya.

Beliau merupakan orang pertama secara ilmiah mengklasifikasikan persamaan-persamaan tingkat satu (persamaan Linear) serta memikirkan kemungkinan dan mengutamakan masalah persamaan pangkat tiga (kubik) yang berpangkal daripada persamaan umum. Lain halnya dengan al-Khawarizmi yang lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada persamaan kuadrat.

Umar Khayyam turut menghasilkan Jawami al-Hisab yang mengandungi rujukan awal mengenai segi tiga Pascal dan menguji balik postulat V Euclides yang berkait dengan teori garis sejajar.

Dalam satu risalahnya, beliau membincangkan kesulitan definisi Euclides yang menggambarkan segi empat ABCD dengan sisi AB dan DC yang sama dengan yang lain.

Umar Khayyam dan al-Thusi juga menyedari bahawa ada kemungkinan jumlah sudut sebuah segi tiga kurang daripada 180 darjah.

Karya syair Umar Khayyam disusun dalam satu kumpulan rubaiyyat atau quatrain (syair empat baris). Kebanyakan karyanya menyingkap kerendahan hati dan sifatnya kepada Allah s.w.t.. Bahkan, hasil karya Umar Khayyam telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh Fitz Gerald pada 1859M.

Pada 1893, E.H. Whinfiel pernah menterjemahkan sebuah buku edisi Umar Khayyam, 500 Quatrains, A Scholarly Work. Kemudiannya pada 1902, Bjerregard telah menerbitkan buku Sufi Interpretations of the Quatrains of Omar Khayyam and Fitz Gerald.Abdul Samad bin Muhammad Said atau nama penanya A. Samad Said, Hilmy Isa, Isa Dahmuri, Jamil Kelana, Manja, Mesra, dan Shamsir dilahirkan pada 9 April 1935 di Kampung Belimbing Dalam, Durian Tunggal, Melaka. Semasa berumur enam bulan, A. Samad Said dibawa oleh keluarganya ke Singapura. A. Samad Said memperoleh pendidikan formal di Sekolah Melayu Kota Raja hingga lulus darjah IV (1940-1946). Kemudian A. Samad meneruskan pengajiannya dalam kelas petang di Victoria Institution hingga memperolehi sijil Senior Cambridge (1956).

Pengalaman kerjaya A. Samad Said bermula sebagai kerani, pengarang di Utusan Melayu, Berita Harian, Kumpulan The Straits Times, dan ketua pengarang akhbar Warta Teberau. Jawatan terakhir A. Samad Said ialah sebagai ketua pengembangan sastera dalam Kumpulan Akhbar The New Straits Times, Kuala Lumpur. Kini A. Samad Said menjadi penulis sepenuh masa yang aktif berkarya.

Sejak di bangku sekolah lagi minatnya terhadap sastera mula berputik apabila beliau berjinak membaca karya sastera dalam dan luar negera seperti karya Ajip Rosidi, Rendra, Pramoedya, Achdiat, Hamzah dan Wijaya Mala. Beliau juga membaca novel Oliver Twist, Wuthering Height, dan Almayer’s Folly. Beliau juga menggunting dan menyimpan cerpen daripada akhbar tempatan dan mengkajinya sebelum menghasilkan cerpennya sendiri. Kegiatan menterjemah beberapa karya asing juga secaran tidak langsung memperkuatkan minatnya terhadap kesuasteraan

Bermula detik alam persekolahan hingga kini A. Samad Said tida jemu menghasilkan puluhan karya dalam genre novel, puisi, drama, cerpen, dan esei untuk mewarnakan dunia sastera di persada tanah air dan antarabangsa. Antara karya besar yang dihasilkan ialah Salina, Bulan Tak Bermadu di Fatehpur Sikri, Sungai Mengalir Lesu, Di Hadapan Pulau, Langit Petang, Daerah Zeni, Hujan Pagi, Lantai T Pinkie, Wira Bukit, Benih Harapan, Benih Semalu, Daun Semalu Pucuk Paku dan Warkah Eropah, AL-AMIN , Riwayat Hidup Rasululiah s.a.w dalam Puisi (1999) dan kumpulah puisi Suara Dari Dinding Dewan (2003) terbitan Utusan Publication & Distributors Sdn Bhd. Sentuhan karyanya yang terbaharu ialah novel Adik Datang, kumpulan puisi Dirgahayu Dr Mahathir dan kumpulan puisi kanak-kanak Rindu Ibu yang diterbitkan oleh Wira Bukit Sdn Bhd.Beberapa karyanya diadaptasi menjadi teater/drama pentas seperti Salina, Sungai Mengalir Lesu, Lantai T. Pinkie, dan Memori Di Hadapan Pulau

Pencapaian dan sumbangan A. Samad Said dalam memperkayakan dan memertabatkan kesusasteraan Melayu telah mendapat penghargaan kerajaan apabila beliau menerima pelbagai anugerah. Antaranya termasuklah Pejuang Sastera (1976), SEA Write Award (1979), Anugerah Sasterawan Negara (1985), dan Anugerah Sasterawan Nusantara (1999).

Selain pengiktirafan dalam bidang sastera, A.Samad Said juga telah dianugerahkan darjah kebesaran Negeri Melaka yang membawa gelaran Datuk dalam tahun 1997 oleh Yang Dipertua Negeri Melaka. (Dewan Sastera Ogos 2003)

Kerajinannya menghasilkan karya dan ketekunannya membaca karya-karya orang lain menjadi titik penentu A. Samad Said ditabalkan sebagai Sasterawan Negara yang versatil di ujana kesusasteraan tanah air. Dalam karya A. Samad Said, khalayak akan melihat ketelitian dan kecermatannya sebagai pengarang pengarang yang menuangkan nurani seninya. A. Samad Said berpendapat bahawa untuk melahirkan karya, karyawan tidak hanya bergantung pada bahan dan bakat serta kekuatan fikiran sahaja tetapi yang penting ialah pembacaan dan pengalaman yang luas.



Sumber berita: analisadaily.com


Abdul Samad bin Muhammad Said atau nama penanya A. Samad Said, Hilmy Isa, Isa Dahmuri, Jamil Kelana, Manja, Mesra, dan Shamsir dilahirkan pada 9 April 1935 di Kampung Belimbing Dalam, Durian Tunggal, Melaka. Semasa berumur enam bulan, A. Samad Said dibawa oleh keluarganya ke Singapura. A. Samad Said memperoleh pendidikan formal di Sekolah Melayu Kota Raja hingga lulus darjah IV (1940-1946). Kemudian A. Samad meneruskan pengajiannya dalam kelas petang di Victoria Institution hingga memperolehi sijil Senior Cambridge (1956).
Pengalaman kerjaya A. Samad Said bermula sebagai kerani, pengarang di Utusan Melayu, Berita Harian, Kumpulan The Straits Times, dan ketua pengarang akhbar Warta Teberau. Jawatan terakhir A. Samad Said ialah sebagai ketua pengembangan sastera dalam Kumpulan Akhbar The New Straits Times, Kuala Lumpur. Kini A. Samad Said menjadi penulis sepenuh masa yang aktif berkarya.
Sejak di bangku sekolah lagi minatnya terhadap sastera mula berputik apabila beliau berjinak membaca karya sastera dalam dan luar negera seperti karya Ajip Rosidi, Rendra, Pramoedya, Achdiat, Hamzah dan Wijaya Mala. Beliau juga membaca novel Oliver Twist, Wuthering Height, dan Almayer’s Folly. Beliau juga menggunting dan menyimpan cerpen daripada akhbar tempatan dan mengkajinya sebelum menghasilkan cerpennya sendiri. Kegiatan menterjemah beberapa karya asing juga secaran tidak langsung memperkuatkan minatnya terhadap kesuasteraan
Bermula detik alam persekolahan hingga kini A. Samad Said tida jemu menghasilkan puluhan karya dalam genre novel, puisi, drama, cerpen, dan esei untuk mewarnakan dunia sastera di persada tanah air dan antarabangsa. Antara karya besar yang dihasilkan ialah Salina, Bulan Tak Bermadu di Fatehpur Sikri, Sungai Mengalir Lesu, Di Hadapan Pulau, Langit Petang, Daerah Zeni, Hujan Pagi, Lantai T Pinkie, Wira Bukit, Benih Harapan, Benih Semalu, Daun Semalu Pucuk Paku dan Warkah Eropah, AL-AMIN , Riwayat Hidup Rasululiah s.a.w dalam Puisi (1999) dan kumpulah puisi Suara Dari Dinding Dewan (2003) terbitan Utusan Publication & Distributors Sdn Bhd. Sentuhan karyanya yang terbaharu ialah novel Adik Datang, kumpulan puisi Dirgahayu Dr Mahathir dan kumpulan puisi kanak-kanak Rindu Ibu yang diterbitkan oleh Wira Bukit Sdn Bhd.Beberapa karyanya diadaptasi menjadi teater/drama pentas seperti Salina, Sungai Mengalir Lesu, Lantai T. Pinkie, dan Memori Di Hadapan Pulau
Pencapaian dan sumbangan A. Samad Said dalam memperkayakan dan memertabatkan kesusasteraan Melayu telah mendapat penghargaan kerajaan apabila beliau menerima pelbagai anugerah. Antaranya termasuklah Pejuang Sastera (1976), SEA Write Award (1979), Anugerah Sasterawan Negara (1985), dan Anugerah Sasterawan Nusantara (1999).
Selain pengiktirafan dalam bidang sastera, A.Samad Said juga telah dianugerahkan darjah kebesaran Negeri Melaka yang membawa gelaran Datuk dalam tahun 1997 oleh Yang Dipertua Negeri Melaka. (Dewan Sastera Ogos 2003)
Kerajinannya menghasilkan karya dan ketekunannya membaca karya-karya orang lain menjadi titik penentu A. Samad Said ditabalkan sebagai Sasterawan Negara yang versatil di ujana kesusasteraan tanah air. Dalam karya A. Samad Said, khalayak akan melihat ketelitian dan kecermatannya sebagai pengarang pengarang yang menuangkan nurani seninya. A. Samad Said berpendapat bahawa untuk melahirkan karya, karyawan tidak hanya bergantung pada bahan dan bakat serta kekuatan fikiran sahaja tetapi yang penting ialah pembacaan dan pengalaman yang luas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS